Minggu, 15 November 2020

ANALISIS PENGELOLAAN AIR PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

 

ANALISIS PENGELOLAAN AIR 

PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR 

Diajukan Untuk Memenuhi Ulangan Tengah Semester Mata Kuliah “ Pengelolaan Air “

Dosen Pengampu : Bibit Nasrokhatun Diniah, SKM., M.Kes

 

 

 




 

Oleh :

Resa Sri Rejeki

CMR0170092

 

  

 

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUGAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN

2020


PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

A.  Analisis :

            Sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor antara lain :

1.    Air permukaan bersumber dari Sungai Cisadane

2.  Mata air bersumber dari Kota Batu = 70 liter /detik, Tangkil = 170 liter/detik, Bantar Kambing = 170 liter/detik 

b.     Klasifikasi air : 

         Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menurut kasifikasi mutu air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke golongan kelas I, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukkan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

c.      Jenis air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke :

1.  Air permukaan merupakan air yang mengalir di permukaan bumi. Umumnya air permukaan tercemar selama masa pengalirannya, seperti oleh air lumpur batang-batang kayu, daun-daunan, limbah industri dan lain sebagainya. Air permukaan terdiri dari air sungai dan air danau.

2.  Mata air adalah air tanah yang keluar secara sendirinya kepermukaan tanah. Biasanya, mata air ini berasal dari air tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitasnya hampir sama dengan air tanah dalam. Berdasarkan munculnya air kepermukaan tanah, mata air dibedakan menjadi:

a.     Rembesan, dimana air keluar dari lereng-lereng

b.    Umbul, dimana air keluar ke permukaan pada suatu dataran.

d.     Aktivitas pencemaran air baku 

   Bahan pencemarnya terutama berasal dari berbagai hasil kegiatan-kegiatan jasa (misalnya laundry, rumah makan, pencucian mobil, dan sebagainya), proses produksi (diantaranya industri pertanian, tekstil, makanan dan sebagainya), maupun oleh kegiatan rumah tangga.

e.    Baku mutu air di tingkat pusat diatur dalam Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, menurut klasifikasi air bahwa air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke golongan kelas 1 yang sudah baik dalam baku mutu airnya.

f.  Pemerintah (PP RI No. 82/2001 dan Permenkes No. 907/2002) sebagai air minum. Namun demikian, setelah air baku tersebut diolah oleh PDAM TP Bogor, secara umum telah terjadi perbaikan mutu air sehingga layak untuk dijadikan air minum.

g.     Pada parameter fisika yaitu kekeruhan

h.   Pada parameter fisika yaitu kekeruhan, nilai kekeruhan pada air baku mencapai 91 NTU yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan, sehingga terjadi pengadukan partikel yang tersuspensi maupun yang terlarut dan mengakibatkan penampakan air menjadi kotor.

 

B.  Metode Pengolahan Air PDAM Tirta Pakuan Bogor

1.     Intake

Proses pengambilan air baku yang berasal dari Sungai Cisadane dilakukan di Water Intake Station (WIS) yang terletak di sekitar Sungai Cisadane. Bangunan intake untuk unit instalasi pengolahan Dekeng terletak di daerah Ciherang Pondok dengan menggunakan sistem pompa karena berada di dataran tinggi. Ketinggian awal air untuk intake adalah 0,5 m, lalu PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor membuatnya menjadi 2 m agar air dapat masuk ke intake. Pendistribusian air baku dari Ciherang Pondok menuju Dekeng melalui pipa sepanjang 5160 m 29 menggunakan sistem gravitasi. Intake dilengkapi dengan screen bar yang berfungsi untuk menyaring sampah.

2.     Prasedimentasi

Bangunan prasedimentasi adalah bangunan pengendapan pertama, yang ditunjukkan untuk mengendapkan partikel-pertikel yang berukuran relatif besar dan berat, seperti sampah berat, lumpur, dan pasir secara gravitasi agar kekeruhan air berkurang dan pengolahan air menjadi lebih mudah. Pada proses ini pengendapan dilakukan dengan cara mendiamkan masa air selama beberapa jam tanpa penambahan zat kimia. Lumpur hasil pengendapan dibuang secara periodik. Lumpur hasil pengendapan pada proses prasedimentasi dibuang ke Sungai Cisadane (dekat PDAM TP di bagian hulu)

3.     Penyaringan Air

Baku yang telah dialirkan dari WIS ke IPA kembali mengalami proses penyaringan. Tujuan dari penyaringan adalah untuk menyaring benda-benda kasar, pengurangan kotoran, pengurangan kadar kandungan lumpur serta pasir yang ikut terbawa pada saat pengaliran air dari bangunan intake. Saringan yang digunakan adalah saringan halus berdiameter 1 cm. penyaringan bertujuan untuk menghindari penyumbatan pada pipa-pipa dan kerusakan pada pompa.

4.     Koagulasi

Koagulasi adalah proses penambahan senyawa koagulan diikuti dengan pengadukan cepat untuk menggabungkan partikel-partikel kecil melayang terutama koloid yang tidak dapat diendapkan dengan cara pengendapan biasa. Biasanya air permukaan mengandung tanah liat dan pertikel-pertikel lain dalam bentuk suspended yang stabil (seperti koloid) dan dapat tahan berbulan-bulan. Dengan adanya senyawa koagulan, maka kestabilan bahan tersuspensi dapat terganggu dan membentuk gumpalan-gumpalan (flok) yang lebih besar serta dapat mengendap.

5.     Flokulasi

Flokulasi merupakan lanjutan dari proses koagulasi, dimana terjadi pembentukan dan penggabungan flok-flok dari proses koagulasi sehingga ukuran flok menjadi lebih besar dan mudah mengendap. Selama proses flokulasi, pengadukan berlangsung dengan kecepatan yang relatif lambat agar flok-flok baru yang terbentuk dengan ukuran lebih besar tidak pecah atau tetap utuh.

6.     Sedimentasi

Proses pengendapan pada unit sedimentasi, adalah merupakan lanjutan dari proses flokulasi. Tujuan dari pengendapan adalah membuat partikel flok yang ada di air dapat mengendap secara gravitasi. Endapan (berupa lumpur) yang dihasilkan oleh bak pengendap kemudian dipisahkan untuk selanjutnya dibuang kembali ke Sungai Cisadane dekat hilir PDAM TP. Proses pemisahan ini sangat tergantung dari jenis partikel dalam air yang akan dipisahkan sehingga diperoleh air olahan yang jernih. Berikut ini adalah jenis-jenis partikel dan sifatnya untuk mengendap:

1.    Partikel diskrit adalah partikel yang dapat mengendap secara alami tanpa merubah ciri atau sifatnya dan tanpa mengalami perubahan ukuran, misalnya adalah pasir.

2.    Partikel flokulen adalah partikel yang dapat mengendap bila sifat, ciri, dan ukurannya berubah menjadi lebih besar pada kedalaman air yang bertambah dalam sehingga dapat mengendap.

7.     Aerasi

Aerasi merupakan proses pengontakan air dengan udara bebas yang bertujuan untuk mengurangi kandungan CO2 (merupakan asam lemah) dalam air. Pengurangan CO2 dimaksudkan untuk menaikkan pH air agar menjadi netral sehingga dapat mengurangi sifat korosif dari air. Proses aerasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa dan bau yang disebabkan oleh zat organik yang terdekomposisi. Selain itu berfungsi untuk mengendapkan ion-ion logam seperti mangan dan besi.

8.     Filtrasi

Filtrasi merupakan proses penyaringan dengan menggunakan suatu media saringan cepat, yang bertujuan memisahkan antara padatan dengan cairan setelah diberikan koagulan. Ada dua jenis saringan pasir yang biasa digunakan, yaitu saringan pasir lambat yang menggunakan media pasir kasar. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor menggunakan saringan pasir cepat untuk proses filtrasinya.

9.     Desinfeksi

Tahap akhir dari proses pengolahan air baku menjadi air minum adalah desinfeksi. Desinfeksi adalah suatu proses pemusnahan mikroorganisme pathogen yang membahayakan kesehatan. Proses desinfeksi dilakukan dengan menambahkan zat kimia yang disebut desinfektan yang digunakan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, sehingga proses ini disebut klorinasi yang pendosisannya berdasarkan BPC (Break Point Chlorination). Sifat BPC adalah untuk menghasilkan chloramin menjadi HOCl- atau OCl- . Gas khlor memiliki daya desinfeksi beberapa jam setelah pembubuhannya, selain itu gas khlor juga dapat mengoksidasi logam-logam berbahaya yang terdapat di dalam air.

10.  Sistem distribusi

Akhir dari semua proses pengolahan akan langsung dialirkan menuju reservoir Pajajaran, Rancamaya dan reservoir Cipaku melalui pipa distribusi. Selain air hasil pengolahan, air yang berasal dari sumber mata air Tangkil juga dialirkan menuju reservoir. Air yang berasal dari sumber mata air Tangkil dialirkan bersamaan dengan air hasil pengolahan IPA Dekeng melalui pipa penyaluran yang sama menuju reservoir Cipaku dan reservoir Pajajaran dengan debit distribusi sekitar 620-649 l/s. Air Tangkil berasal dari mata air sehingga proses pengolahan air dari mata air Tangkil hanya dilakukan dengan penambahan soda (abu) ash dan klorinasi.

C.    Diagram alur proses pengolahan air bersih PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor


 





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ANALISIS PENGELOLAAN AIR PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

  ANALISIS PENGELOLAAN AIR  PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR  Diajukan Untuk Memenuhi Ulangan Tengah Semester Mata Kuliah “ Pengelolaan Air “ ...