ANALISIS PENGELOLAAN AIR
PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR
Diajukan Untuk Memenuhi Ulangan Tengah Semester Mata Kuliah “ Pengelolaan Air “
Dosen Pengampu : Bibit Nasrokhatun Diniah, SKM., M.Kes
Oleh :
Resa Sri Rejeki
CMR0170092
PROGRAM
STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN
KESEHATAN LINGKUGAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
2020
PDAM
Tirta Pakuan Kota Bogor
A. Analisis :
Sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor antara lain :
1. Air permukaan
bersumber dari Sungai Cisadane
2. Mata air bersumber
dari Kota
Batu = 70 liter /detik, Tangkil = 170 liter/detik, Bantar Kambing = 170
liter/detik
b. Klasifikasi air :
Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menurut kasifikasi mutu air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke golongan kelas I, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukkan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
c. Jenis air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke :
1. Air permukaan merupakan
air yang mengalir di permukaan bumi. Umumnya air permukaan tercemar selama masa
pengalirannya, seperti oleh air lumpur batang-batang kayu, daun-daunan, limbah
industri dan lain sebagainya. Air permukaan terdiri dari air sungai dan air
danau.
2. Mata air
adalah air tanah yang keluar secara sendirinya kepermukaan tanah. Biasanya,
mata air ini berasal dari air tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim
dan kualitasnya hampir sama dengan air tanah dalam. Berdasarkan munculnya air
kepermukaan tanah, mata air dibedakan menjadi:
a.
Rembesan, dimana air keluar dari lereng-lereng
b. Umbul, dimana air keluar ke permukaan pada suatu
dataran.
d. Aktivitas pencemaran air baku
Bahan pencemarnya terutama berasal dari berbagai hasil kegiatan-kegiatan jasa (misalnya laundry, rumah makan, pencucian mobil, dan sebagainya), proses produksi (diantaranya industri pertanian, tekstil, makanan dan sebagainya), maupun oleh kegiatan rumah tangga.
e. Baku mutu air di tingkat pusat diatur dalam Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, menurut klasifikasi air bahwa air PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor termasuk ke golongan kelas 1 yang sudah baik dalam baku mutu airnya.
f. Pemerintah (PP RI No. 82/2001 dan Permenkes No. 907/2002) sebagai air minum. Namun demikian, setelah air baku tersebut diolah oleh PDAM TP Bogor, secara umum telah terjadi perbaikan mutu air sehingga layak untuk dijadikan air minum.
g. Pada parameter fisika yaitu kekeruhan
h. Pada parameter fisika yaitu kekeruhan, nilai kekeruhan pada air baku mencapai 91 NTU yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan, sehingga terjadi pengadukan partikel yang tersuspensi maupun yang terlarut dan mengakibatkan penampakan air menjadi kotor.
B. Metode
Pengolahan Air PDAM Tirta Pakuan Bogor
1. Intake
Proses pengambilan air
baku yang berasal dari Sungai Cisadane dilakukan di Water Intake Station (WIS)
yang terletak di sekitar Sungai Cisadane. Bangunan intake untuk unit instalasi
pengolahan Dekeng terletak di daerah Ciherang Pondok dengan menggunakan sistem
pompa karena berada di dataran tinggi. Ketinggian awal air untuk intake adalah
0,5 m, lalu PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor membuatnya menjadi 2 m agar air dapat
masuk ke intake. Pendistribusian air baku dari Ciherang Pondok menuju Dekeng
melalui pipa sepanjang 5160 m 29 menggunakan sistem gravitasi. Intake
dilengkapi dengan screen bar yang berfungsi untuk menyaring sampah.
2. Prasedimentasi
Bangunan prasedimentasi
adalah bangunan pengendapan pertama, yang ditunjukkan untuk mengendapkan
partikel-pertikel yang berukuran relatif besar dan berat, seperti sampah berat,
lumpur, dan pasir secara gravitasi agar kekeruhan air berkurang dan pengolahan
air menjadi lebih mudah. Pada proses ini pengendapan dilakukan dengan cara
mendiamkan masa air selama beberapa jam tanpa penambahan zat kimia. Lumpur
hasil pengendapan dibuang secara periodik. Lumpur hasil pengendapan pada proses
prasedimentasi dibuang ke Sungai Cisadane (dekat PDAM TP di bagian hulu)
3. Penyaringan
Air
Baku yang telah dialirkan
dari WIS ke IPA kembali mengalami proses penyaringan. Tujuan dari penyaringan
adalah untuk menyaring benda-benda kasar, pengurangan kotoran, pengurangan
kadar kandungan lumpur serta pasir yang ikut terbawa pada saat pengaliran air
dari bangunan intake. Saringan yang digunakan adalah saringan halus berdiameter
1 cm. penyaringan bertujuan untuk menghindari penyumbatan pada pipa-pipa dan
kerusakan pada pompa.
4. Koagulasi
Koagulasi adalah proses
penambahan senyawa koagulan diikuti dengan pengadukan cepat untuk menggabungkan
partikel-partikel kecil melayang terutama koloid yang tidak dapat diendapkan
dengan cara pengendapan biasa. Biasanya air permukaan mengandung tanah liat dan
pertikel-pertikel lain dalam bentuk suspended yang stabil (seperti koloid) dan
dapat tahan berbulan-bulan. Dengan adanya senyawa koagulan, maka kestabilan
bahan tersuspensi dapat terganggu dan membentuk gumpalan-gumpalan (flok) yang
lebih besar serta dapat mengendap.
5. Flokulasi
Flokulasi merupakan
lanjutan dari proses koagulasi, dimana terjadi pembentukan dan penggabungan
flok-flok dari proses koagulasi sehingga ukuran flok menjadi lebih besar dan
mudah mengendap. Selama proses flokulasi, pengadukan berlangsung dengan
kecepatan yang relatif lambat agar flok-flok baru yang terbentuk dengan ukuran
lebih besar tidak pecah atau tetap utuh.
6. Sedimentasi
Proses pengendapan pada
unit sedimentasi, adalah merupakan lanjutan dari proses flokulasi. Tujuan dari
pengendapan adalah membuat partikel flok yang ada di air dapat mengendap secara
gravitasi. Endapan (berupa lumpur) yang dihasilkan oleh bak pengendap kemudian
dipisahkan untuk selanjutnya dibuang kembali ke Sungai Cisadane dekat hilir
PDAM TP. Proses pemisahan ini sangat tergantung dari jenis partikel dalam air
yang akan dipisahkan sehingga diperoleh air olahan yang jernih. Berikut ini
adalah jenis-jenis partikel dan sifatnya untuk mengendap:
1. Partikel
diskrit adalah partikel yang dapat mengendap secara alami tanpa merubah ciri
atau sifatnya dan tanpa mengalami perubahan ukuran, misalnya adalah pasir.
2. Partikel
flokulen adalah partikel yang dapat mengendap bila sifat, ciri, dan ukurannya
berubah menjadi lebih besar pada kedalaman air yang bertambah dalam sehingga
dapat mengendap.
7. Aerasi
Aerasi merupakan proses pengontakan
air dengan udara bebas yang bertujuan untuk mengurangi kandungan CO2 (merupakan
asam lemah) dalam air. Pengurangan CO2 dimaksudkan untuk menaikkan pH air agar
menjadi netral sehingga dapat mengurangi sifat korosif dari air. Proses aerasi
juga bertujuan untuk mengurangi rasa dan bau yang disebabkan oleh zat organik
yang terdekomposisi. Selain itu berfungsi untuk mengendapkan ion-ion logam
seperti mangan dan besi.
8. Filtrasi
Filtrasi merupakan proses
penyaringan dengan menggunakan suatu media saringan cepat, yang bertujuan
memisahkan antara padatan dengan cairan setelah diberikan koagulan. Ada dua
jenis saringan pasir yang biasa digunakan, yaitu saringan pasir lambat yang
menggunakan media pasir kasar. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor menggunakan saringan
pasir cepat untuk proses filtrasinya.
9. Desinfeksi
Tahap akhir dari proses
pengolahan air baku menjadi air minum adalah desinfeksi. Desinfeksi adalah
suatu proses pemusnahan mikroorganisme pathogen yang membahayakan kesehatan.
Proses desinfeksi dilakukan dengan menambahkan zat kimia yang disebut
desinfektan yang digunakan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, sehingga proses
ini disebut klorinasi yang pendosisannya berdasarkan BPC (Break Point
Chlorination). Sifat BPC adalah untuk menghasilkan chloramin menjadi HOCl- atau
OCl- . Gas khlor memiliki daya desinfeksi beberapa jam setelah pembubuhannya,
selain itu gas khlor juga dapat mengoksidasi logam-logam berbahaya yang
terdapat di dalam air.
10. Sistem
distribusi
Akhir dari semua proses pengolahan akan langsung dialirkan menuju reservoir Pajajaran, Rancamaya dan reservoir Cipaku melalui pipa distribusi. Selain air hasil pengolahan, air yang berasal dari sumber mata air Tangkil juga dialirkan menuju reservoir. Air yang berasal dari sumber mata air Tangkil dialirkan bersamaan dengan air hasil pengolahan IPA Dekeng melalui pipa penyaluran yang sama menuju reservoir Cipaku dan reservoir Pajajaran dengan debit distribusi sekitar 620-649 l/s. Air Tangkil berasal dari mata air sehingga proses pengolahan air dari mata air Tangkil hanya dilakukan dengan penambahan soda (abu) ash dan klorinasi.
C. Diagram alur proses pengolahan air bersih PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor

Tidak ada komentar:
Posting Komentar