Minggu, 19 Juli 2020

Isu Tentang Penyakit ISPA terhadap Paparan Debu

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyakit Berbasis Lingkungan 

Dosen Pengampu : Hamdan, SKM., MKM

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Nama : Resa Sri Rejeki 

NIM : CMR0170092

Peminatan : Kesehatan Lingkungan

 

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN

KUNINGAN

2020

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu bagian dari Negara berkembang dan dengan lingkungan geografis yang khas mempunyai masalah yang hampir sama dengan Negara berkembang lainnya, yaitu banyaknya angka kesakitan akibat gangguan saluran pernafasan ISPA.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi penyakit yang menyerang pada balita yang terjadi di saluran napas dan kebanyakan merupakan infeksi virus. Penderita akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang serta anoreksia. Di bagian tonsilitis dan otitis media akan memperlihatkan adanya inflamasi pada tonsil atau telinga tengah dengan jelas. Infeksi akut pada balita akan mengakibatkan berhentinya pernapasan sementara atau apnea. ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada balita. Menurut para ahli, daya tahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya belum kuat. Apabila dalam satu rumah anggota keluarga terkena pilek, balita akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi anak yang lemah, proses penyebaran penyakit menjadi lebih cepat. Resiko ISPA mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, akan tetapi menyebabkan kecacatan seperti otitis media akuta (OMA) dan mastoiditis.

Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter/SPM). Debu adalah zat kimia padat, yang disebabkan oleh kekuatan alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari benda, baik organik maupun anorganik. Particulate matter (PM) atau disebut juga sebagai debu, yaitu sekumpulan benda mati maupun kehidupan mikro yang memiliki diameter antar 0,1 mikron hingga 500 mikron. Umumnya partikel yang dapat memasuki saluran pernapasan adalah partikel yang berukuran lebih kecil dari 10 µm. Partikel dengan ukuran tersebut disebut juga PM10.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud definisi penyakit ISPA?

2.      Apa yang dimaksud epidemiologi penyakit ISPA?

3.      Apa saja klasifikasi penyakit ISPA?

4.      Bagaimana faktor paparan debu dengan kejadian penyakit ISPA?

C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud definisi penyakit ISPA

2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud epidemiologi penyakit ISPA

3.      Untuk mengetahui apa saja klasifikasi penyakit ISPA

4.      Untuk mengetahui bagaimana faktor paparan debu dengan kejadian penyakit ISPA

D.    Manfaat

1.      Bagi Pembaca

Agar pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud definisi penyakit ISPA, epidemiologi penyakit ISPA, dan apa saja klasifikasi penyakit ISPA, serta bagaimana faktor paparan debu dengan kejadian penyakit ISPA.

2.      Bagi Mahasiswa

Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam memahami penyakit ISPA.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Penyakit ISPA

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Bayi di bawah lima tahun adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme `dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Akan tetapi sangatlah penting memperhatikan ISPA pada anak karena anak terlalu rentan terkena penyakit ini dan penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak – anak, terutama pada bayi dan anak – anak dibawah usia lima tahun.

B.     Epidemiologi Penyakit ISPA

Penyakit ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan Penyakit ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan kematian pada bayi dan balita karena ISPA. Di Negara maju, angka kejadian ISPA mencapai 50% dari semua penyakit yang diderita anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun dan 30% dari semua penyakit yang diderita anak – anak berusia 5-12 tahun. Setiap anak Indonesia diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan merupakan 40-60% kunjungan Puskesmas adalah penyakit ISPA.

Manifestasi klinis akibat ISPA dapat bermacam-macam, tergantung beberapa hal :

1.      Usia penderita

2.      Penyakit lain yang menyertainya

3.      Ada tidaknya kelainan

4.      Mikroorganisme apa yang menjadi penyebabnya

5.      Bagaimana daya tahan tubuh penderita saat terserang infeksi

6.      Bagian saluran nafas mana yang terserang infeksi

7.      Bagaimana cara penderita mendapatkan infeksi, di komunitas atau di rumah sakit.

           ISPA dapat menyerang semua orang, semua umur maupun jenis kelamin serta tingkat social ekonomi (Kusmana 2004). Musim hujan menurut penelitian Kartasasmita di Cikutra Bandung, berpengaruh secara bermakna terhadap insiden ISPA (musim bujan 56% dan kemarau 44%) (Kartasasmita,1993).

C.    Klasifikasi Penyakit ISPA

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi semua penyakit ISPA yang umumnya disertai batuk sebagai berikut:

1.   ISPA berat : ditandai sesak nafas yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam (chest indrawing) pada waktu inspirasi (secara klinis  ISPA berat=Pneumonia berat).

2.   ISPA sedang : ditandai oleh adanya nafas cepat :

a.       Umur 2 bulan – 1 tahun : 50X per menit atau lebih.

b.       Umur 1 tahun – 5 tahun : 40X per menit atau lebih. (Secara klinis ISPA sedang = pneumonia).

         ISPA ringan : ditandai oleh batuk, pilek yang bisa disertai demam, tetapi tanpa tarikan dinding dada ke dalam dan tanpa nafas cepat. (Secara Klinis ISPA ringan = bukan pneumonia) Rinofaringitis, faringitis dan tonsillitis tergolong bukan pneumonia.

Klasifikasi ISPA dalam program P2 ISPA juga dibedakan untuk golongan umur kurang dari 2 bulan dan golongan umur balita 2 bulan – 5 tahun.

Untuk golongan umur kurang dari 2 bulan ada 2 klasifikasi yaitu :

1.      Pneumonia Berat

   Anak dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam atau nafas cepat (60X per menit atau lebih). Tarikan dinding dada kedalam terjadi bila paru-paru menjadi “kaku” dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik nafas. Anak dengan tarikan dinding dada ke dalam, mempunyai resiko meninggal yang lebih besar dibanding dengan anak yang hanya menderita pernafasan cepat. Penderita pneumonia berat juga mungkin disertai tanda- tanda lain seperti :

a.       Napas cuping hidung, hidung kembang kempis waktu bernafas.

b.       Suara rintihan

c.       Sianosis (Kulit kebiru-biruan karena kekurangan oksigen).

d.       Wheezing yang baru pertama dialami.

2.      Bukan Pneumonia

   Bila tidak ditemukan adanya tarikan kuat ke dalam dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu < 60 kali per menit (batuk,pilek,biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur kurang dari 2 bulan ini adalah : kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, gizi buruk, demam/dingin.

Untuk golongan umur 2 bulan – 5 tahun ada 3 klasifikasi, yaitu :

1.    Pneumonia Berat, bila disertai nafas sesak dengan adanya tarikan dada bagian bawah ke dalam waktu anak menarik nafas, dengan catatan anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis dan meronta.

2.    Pneumonia, bila hanya disertai nafas cepat dengan batasan :

a.       Untuk usia 2 bulan – kurang 12 bulan = 50X per menit.

b.       Untuk usia 1 tahun – 5 tahun = 40X per menit atau lebih.

c.       Bukan Pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam atau nafas cepat (batuk pilek biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan – 5 tahun adalah : tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing dan gizi buruk.

D.    Faktor Paparan Debu dengan Kejadian Penyakit ISPA

Paparan debu adalah partikel debu yang dihirup masyarakat di luar ruangan maupun di dalam ruangan, paparan debu dapat menggangu saluran pernafasan masyarakat yang berada di di luar rumah, seperti debu perubahan fungsi lahan, arus kendaran yang melintas terus-menerus terjadi polusi udara. Faktor lingkungan yang mempengaruhi gangguan saluran pernafasaan adalah paparan debu di halaman rumah dan lingkungan. Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan berdampak berkurangnya O2 dalam ruangan yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, sehingga mempercepat timbulnya penyakit gangguan saluran pernafasan.

Faktor yang mendasari timbulnya suatu gejala penyakit pernafasaan, antara lain batuk dahak, sesak nafas dan bunyi mengi. Efek debu terhadap saluran pernafasaan telah terbukti bahwa kadar debu berhubungan dengan kejadian gejala penyakit pernafasaan terutama gejala batuk, sesak nafas dan nyeri dada. Di saluran pernafasaan, debu yang mengendap menimbulkan oedema mukosa di dinding saluran pernafasaan sehingga terjadi penyempitan pernafasaan.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Penderita akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang serta anoreksia. Infeksi akut pada balita akan mengakibatkan berhentinya pernapasan sementara atau apnea. Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter/SPM). Umumnya partikel yang dapat memasuki saluran pernapasan adalah partikel yang berukuran lebih kecil dari 10 µm. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Di Negara maju, angka kejadian ISPA mencapai 50% dari semua penyakit yang diderita anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun dan 30% dari semua penyakit yang diderita anak – anak berusia 5-12 tahun. Setiap anak Indonesia diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan merupakan 40-60% kunjungan Puskesmas adalah penyakit ISPA. ISPA dapat menyerang semua orang, semua umur maupun jenis kelamin serta tingkat social ekonomi.

Umur 1 tahun – 5 tahun : 40X per menit atau lebih. ISPA ringan : ditandai oleh batuk, pilek yang bisa disertai demam, tetapi tanpa tarikan dinding dada ke dalam dan tanpa nafas cepat. (Secara Klinis ISPA ringan = bukan pneumonia) Rinofaringitis, faringitis dan tonsillitis tergolong bukan pneumonia. Tarikan dinding dada kedalam terjadi bila paru-paru menjadi “kaku” dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik nafas. Penderita pneumonia berat juga mungkin disertai tanda- tanda lain seperti :. Bila tidak ditemukan adanya tarikan kuat ke dalam dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu < 60 kali per menit (batuk,pilek,biasa). c. Bukan Pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam atau nafas cepat (batuk pilek biasa).

Paparan debu adalah partikel debu yang dihirup masyarakat di luar ruangan maupun di dalam ruangan, paparan debu dapat menggangu saluran pernafasan masyarakat yang berada di di luar rumah, seperti debu perubahan fungsi lahan, arus kendaran yang melintas terus-menerus terjadi polusi udara. Faktor lingkungan yang mempengaruhi gangguan saluran pernafasaan adalah paparan debu di halaman rumah dan lingkungan. Faktor yang mendasari timbulnya suatu gejala penyakit pernafasaan, antara lain batuk dahak, sesak nafas dan bunyi mengi.

B.     Saran

Dengan diselesaikannya laporan ini diharapkan pembaca dapat mengetahui faktor paparan debu terhadap penyakit ISPA dan dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pembaca sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit ISPA tersebut, sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya infeksi saluran pernafasan akut .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ANALISIS PENGELOLAAN AIR PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR

  ANALISIS PENGELOLAAN AIR  PDAM TIRTA PAKUAN KOTA BOGOR  Diajukan Untuk Memenuhi Ulangan Tengah Semester Mata Kuliah “ Pengelolaan Air “ ...