MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyakit Berbasis Lingkungan
Dosen Pengampu : Hamdan, SKM., MKM
Disusun Oleh :
Nama : Resa Sri Rejeki
NIM : CMR0170092
Peminatan : Kesehatan Lingkungan
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
KUNINGAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia
sebagai salah satu bagian dari Negara berkembang dan dengan lingkungan
geografis yang khas mempunyai masalah yang hampir sama dengan Negara berkembang
lainnya, yaitu banyaknya angka kesakitan akibat gangguan saluran pernafasan
ISPA.
Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi penyakit yang menyerang pada
balita yang terjadi di saluran napas dan kebanyakan merupakan infeksi virus.
Penderita akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang serta anoreksia. Di
bagian tonsilitis dan otitis media akan memperlihatkan adanya inflamasi pada
tonsil atau telinga tengah dengan jelas. Infeksi akut pada balita akan mengakibatkan
berhentinya pernapasan sementara atau apnea. ISPA merupakan penyakit yang
sering terjadi pada balita. Menurut para ahli, daya tahan tubuh anak sangat
berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya belum kuat.
Apabila dalam satu rumah anggota keluarga terkena pilek, balita akan lebih
mudah tertular. Dengan kondisi anak yang lemah, proses penyebaran penyakit
menjadi lebih cepat. Resiko ISPA mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah
kecil, akan tetapi menyebabkan kecacatan seperti otitis media akuta (OMA) dan
mastoiditis.
Debu
merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang
di udara (Suspended Particulate Matter/SPM). Debu adalah zat kimia padat, yang
disebabkan oleh kekuatan alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran,
pelembutan, pengepakan yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari benda, baik
organik maupun anorganik. Particulate matter (PM) atau disebut juga sebagai
debu, yaitu sekumpulan benda mati maupun kehidupan mikro yang memiliki diameter
antar 0,1 mikron hingga 500 mikron. Umumnya partikel yang dapat memasuki
saluran pernapasan adalah partikel yang berukuran lebih kecil dari 10 µm.
Partikel dengan ukuran tersebut disebut juga PM10.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
yang dimaksud definisi penyakit ISPA?
2.
Apa
yang dimaksud epidemiologi penyakit ISPA?
3.
Apa
saja klasifikasi penyakit ISPA?
4.
Bagaimana
faktor paparan debu dengan kejadian penyakit ISPA?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud definisi penyakit ISPA
2.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud epidemiologi penyakit ISPA
3.
Untuk
mengetahui apa saja klasifikasi penyakit ISPA
4.
Untuk
mengetahui bagaimana faktor paparan debu dengan kejadian penyakit ISPA
D. Manfaat
1.
Bagi
Pembaca
Agar pembaca dapat
mengetahui apa yang dimaksud definisi penyakit ISPA, epidemiologi penyakit ISPA,
dan apa saja klasifikasi penyakit ISPA, serta bagaimana faktor paparan debu
dengan kejadian penyakit ISPA.
2.
Bagi
Mahasiswa
Untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan dalam memahami penyakit ISPA.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Penyakit ISPA
Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ
saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini
disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila
ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Bayi di bawah lima tahun adalah kelompok
yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai
penyakit. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut
berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme `dan menyerang
salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung
(saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya,
seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Akan tetapi sangatlah penting
memperhatikan ISPA pada anak karena anak terlalu rentan terkena penyakit ini
dan penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak – anak,
terutama pada bayi dan anak – anak dibawah usia lima tahun.
B. Epidemiologi Penyakit ISPA
Penyakit
ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal
ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan Penyakit ISPA masih merupakan
salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan masih
tingginya angka kesakitan dan kematian pada bayi dan balita karena ISPA. Di
Negara maju, angka kejadian ISPA mencapai 50% dari semua penyakit yang diderita
anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun dan 30% dari semua penyakit yang
diderita anak – anak berusia 5-12 tahun. Setiap anak Indonesia diperkirakan
mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan merupakan 40-60% kunjungan
Puskesmas adalah penyakit ISPA.
Manifestasi
klinis akibat ISPA dapat bermacam-macam, tergantung beberapa hal :
1.
Usia penderita
2.
Penyakit
lain yang menyertainya
3.
Ada
tidaknya kelainan
4.
Mikroorganisme
apa yang menjadi penyebabnya
5.
Bagaimana
daya tahan tubuh penderita saat terserang infeksi
6.
Bagian
saluran nafas mana yang terserang infeksi
7.
Bagaimana
cara penderita mendapatkan infeksi, di komunitas atau di rumah sakit.
ISPA dapat menyerang semua orang,
semua umur maupun jenis kelamin serta tingkat social ekonomi (Kusmana 2004).
Musim hujan menurut penelitian Kartasasmita di Cikutra Bandung, berpengaruh
secara bermakna terhadap insiden ISPA (musim bujan 56% dan kemarau 44%)
(Kartasasmita,1993).
C. Klasifikasi Penyakit ISPA
Program
Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi semua penyakit ISPA yang umumnya
disertai batuk sebagai berikut:
1. ISPA berat :
ditandai sesak nafas yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam
(chest indrawing) pada waktu inspirasi (secara klinis ISPA berat=Pneumonia berat).
2. ISPA sedang :
ditandai oleh adanya nafas cepat :
a.
Umur
2 bulan – 1 tahun : 50X per menit atau lebih.
b.
Umur
1 tahun – 5 tahun : 40X per menit atau lebih.
(Secara klinis ISPA sedang = pneumonia).
ISPA ringan : ditandai oleh batuk,
pilek yang bisa disertai demam, tetapi tanpa
tarikan dinding dada ke dalam dan tanpa nafas cepat. (Secara Klinis ISPA ringan = bukan pneumonia)
Rinofaringitis, faringitis dan tonsillitis tergolong bukan pneumonia.
Klasifikasi ISPA
dalam program P2 ISPA juga dibedakan untuk golongan umur kurang dari 2 bulan
dan golongan umur balita 2 bulan – 5 tahun.
Untuk golongan umur
kurang dari 2 bulan ada 2 klasifikasi yaitu :
1.
Pneumonia Berat
Anak dengan tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam atau nafas cepat (60X per menit atau lebih). Tarikan dinding dada
kedalam terjadi bila paru-paru menjadi “kaku” dan mengakibatkan perlunya tenaga
untuk menarik nafas. Anak dengan tarikan dinding dada ke dalam, mempunyai
resiko meninggal yang lebih besar dibanding dengan anak yang hanya menderita
pernafasan cepat. Penderita pneumonia berat juga mungkin disertai tanda- tanda
lain seperti :
a.
Napas
cuping hidung, hidung kembang kempis waktu bernafas.
b.
Suara rintihan
c.
Sianosis
(Kulit kebiru-biruan karena kekurangan oksigen).
d.
Wheezing
yang baru pertama dialami.
2.
Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan adanya tarikan kuat ke
dalam dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu < 60 kali per menit
(batuk,pilek,biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur kurang dari 2 bulan ini
adalah : kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, gizi
buruk, demam/dingin.
Untuk
golongan umur 2 bulan – 5 tahun ada 3 klasifikasi, yaitu :
1. Pneumonia Berat,
bila disertai nafas sesak dengan adanya tarikan dada bagian bawah ke dalam
waktu anak menarik nafas, dengan catatan anak harus dalam keadaan tenang, tidak
menangis dan meronta.
2. Pneumonia, bila
hanya disertai nafas cepat dengan batasan :
a.
Untuk
usia 2 bulan – kurang 12 bulan = 50X per menit.
b.
Untuk
usia 1 tahun – 5 tahun = 40X per menit atau lebih.
c.
Bukan
Pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam atau
nafas cepat (batuk pilek biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan – 5
tahun adalah : tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing
dan gizi buruk.
D. Faktor Paparan Debu dengan Kejadian Penyakit ISPA
Paparan
debu adalah partikel debu yang dihirup masyarakat di luar ruangan maupun di
dalam ruangan, paparan debu dapat menggangu saluran pernafasan masyarakat yang
berada di di luar rumah, seperti debu perubahan fungsi lahan, arus kendaran
yang melintas terus-menerus terjadi polusi udara. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi gangguan saluran pernafasaan adalah paparan debu di halaman rumah
dan lingkungan. Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya
akan berdampak berkurangnya O2 dalam ruangan yang menyebabkan daya tahan tubuh
menurun, sehingga mempercepat timbulnya penyakit gangguan saluran pernafasan.
Faktor
yang mendasari timbulnya suatu gejala penyakit pernafasaan, antara lain batuk
dahak, sesak nafas dan bunyi mengi. Efek debu terhadap saluran pernafasaan
telah terbukti bahwa kadar debu berhubungan dengan kejadian gejala penyakit
pernafasaan terutama gejala batuk, sesak nafas dan nyeri dada. Di saluran
pernafasaan, debu yang mengendap menimbulkan oedema mukosa di dinding saluran
pernafasaan sehingga terjadi penyempitan pernafasaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penderita
akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang serta anoreksia. Infeksi akut
pada balita akan mengakibatkan berhentinya pernapasan sementara atau apnea.
Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang
melayang di udara (Suspended Particulate Matter/SPM). Umumnya partikel yang
dapat memasuki saluran pernapasan adalah partikel yang berukuran lebih kecil
dari 10 µm. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan
menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Di Negara maju,
angka kejadian ISPA mencapai 50% dari semua penyakit yang diderita anak-anak
yang berusia dibawah 5 tahun dan 30% dari semua penyakit yang diderita anak –
anak berusia 5-12 tahun. Setiap anak Indonesia diperkirakan mengalami 3-6
episode ISPA setiap tahunnya dan merupakan 40-60% kunjungan Puskesmas adalah
penyakit ISPA. ISPA dapat menyerang semua orang, semua umur maupun jenis
kelamin serta tingkat social ekonomi.
Umur
1 tahun – 5 tahun : 40X per menit atau lebih. ISPA ringan : ditandai oleh
batuk, pilek yang bisa disertai demam, tetapi tanpa tarikan dinding dada ke
dalam dan tanpa nafas cepat. (Secara Klinis ISPA ringan = bukan pneumonia)
Rinofaringitis, faringitis dan tonsillitis tergolong bukan pneumonia. Tarikan
dinding dada kedalam terjadi bila paru-paru menjadi “kaku” dan mengakibatkan
perlunya tenaga untuk menarik nafas. Penderita pneumonia berat juga mungkin
disertai tanda- tanda lain seperti :. Bila tidak ditemukan adanya tarikan kuat
ke dalam dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu < 60 kali per
menit (batuk,pilek,biasa). c. Bukan Pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan
dinding dada bagian bawah kedalam atau nafas cepat (batuk pilek biasa).
Paparan
debu adalah partikel debu yang dihirup masyarakat di luar ruangan maupun di
dalam ruangan, paparan debu dapat menggangu saluran pernafasan masyarakat yang
berada di di luar rumah, seperti debu perubahan fungsi lahan, arus kendaran
yang melintas terus-menerus terjadi polusi udara. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi gangguan saluran pernafasaan adalah paparan debu di halaman rumah
dan lingkungan. Faktor yang mendasari timbulnya suatu gejala penyakit
pernafasaan, antara lain batuk dahak, sesak nafas dan bunyi mengi.
B. Saran
Dengan
diselesaikannya laporan ini diharapkan pembaca dapat mengetahui faktor paparan
debu terhadap penyakit ISPA dan dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Pembaca sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit ISPA tersebut,
sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga
diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya infeksi saluran pernafasan
akut .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar